Rahasia dibalik Identitas Virtual
Pada zaman yang serba
modern, teknologi sudah sangat kuat keberadaannya bagi kita. Sehingga banyak
dari kita ketergantungan dengan teknologi itu sendiri. Teknologi sekarang sudah
semakin maju, terbukti dari penemuan-penemuan yang sudah bisa digunakan, salah
satu penemuan teknologi yang hingga saat ini kita rasakan, bahkan digunakan
adalah teknologi komunikasi.
Teknologi komunikasi
memberi peranan penting dalam manusia pada era millenial ini, manusia saling
terhubung satu sama lain hanya melalui layar handphone atau PC. Jarak yang teramat jauh memudahkan kita untuk
berkomunikasi tanpa bertatap muka, menyapa dan tak harus berada di tempat
kejadian. Hal itu memunculkan realitas di dunia maya atau realitas virtual.
Sebelumnya, saya belum
mengetahui terkait dengan “virtual reality”.
Mungkin sebagian dari kalian ada yang mengenalnya ada pula yang tidak. Nah maka
dari itu, sebelum saya memulai topik atau isu yang akan dibicarakan , saya akan
menjelaskan sedikit tentang “virtual reality” atau realitas virtual.
Virtual Reality is
electronic simulations of environments experienced via headmounted eye goggles
and wired clothing enabling the end user to interact in realistic
three-dimensional situations. (Coates : 1992)
Jadi dunia virtual
sendiri muncul karena ada aktivitas di dalam cyberspaces atau ruang cyber
melalui elektronik atau teknologi yaitu internet. Di dunia maya atau virtual
kita dapat menemukan teman baru baik sejenis maupun lawan jenis. Kita dapat
melihat berbagai macam orang dari manapun tanpa batas ruang dan waktu.
Banyak dari kita
mengkonsumsi media sosial untuk kepentingan pribadi. Entah itu instagram,
twitter, facebook dan yang lainnya. Berbagai dampak positif dan negatif mulai
bermunculan. Salah satu dampak negatif dari penggunaan media sosial yaitu
pemalsuan identitas yang akan saya bahas saat ini.
Pada tahun 2012 lalu saya
join dengan komunitas virtual yaitu salah satu komunitas game online. Game yang
saya masuki yaitu komunitas game blacksquad. Nah dari situ saya berkenalan
dengan teman di virtual sebut saja dia bernama Alex. Nah Alex ini katanya
berasal dari Kota Solo. Saya mengenalnya melalui aplikasi twitter. Awalnya kita
saling curhat dan melakukan proses komunikasi melalui mention di twitter lalu
berlanjut ke dm (direct messages). Di dm (direct messages) kita saling bertukar
nomor handphone lalu beralih ke pesan berbayar.
Setelah itu kita bertukar
media sosial seperti instagram. Awalnya saya tidak mencurigai adanya pemalsuan
identitas yang dilakukan oleh Alex ini. Karena ia pun tidak memunculkan tanda
tanda bahwa ia berbohong. Hampir setiap malam kita bertukar cerita melalui
call. Ia menceritakan perihal hidupnya, perihal teman spesialnya juga perihal
kakak perempuannya. Alex pun tidak malu meceritakan tentang kesehatannya yang
buruk. Ia memulai self disclosure kepada saya.
DeVito (1990:60)
menyebutkan bahwa makna dari self
disclosure adalah suatu bentuk
komunikasi dimana anda atau seseorang menyampaikan informasi tentang dirinya
yang biasanya disimpan. Oleh karena itu, setidaknya proses self disclosure membutuhkan
dua orang. Self disclosure dapat terjadi, bila ada seseorang dengan sukarela
menceritakan mengenai dirinya
kepada orang lain.
Pada suatu waktu ia
memaksa saya untuk meneleponnya, tapi saya tidak bisa karena pada waktu itu
saya memiliki kesibukan sendiri. Akhirnya dia marah, menurutnya saya sombong
tidak mau mengangkat atau sekedar meneleponnya. Lama kelamaan saya risih,
akhirnya saya menjauhinya. Setelah kejadian tersebut, kami pun mulai jarang
berkomunikasi secara intens. Akibatnya hubungan kami merenggang dan kami tidak
berkomunikasi kembali.
Beberapa waktu kemudian,
saya menemukan kejanggalan ketika saya membuka aplikasi chatting. Karena nomor
yang Alex pakai sudah saya simpan, saya bisa melihat foto profilnya. Dan
ternyata yang saya lihat bukan foto llelaki yang selalu ia tampilkan di instagram tetapi foto seorang wanita mengenakan hijab.
Pada awalnya saya
berpikir bahwa itu adiknya, namun saya ragu karena dia pernah bercerita bahwa
ia tidak memiliki adik. Saya mulai mencari-cari informasi mengenainya melalui
instagram dan aplikasi lainnya. Akhirnya kejanggalan itu terjawab sudah, saya
menemukan sesuatu bahwa Alex itu tidak nyata, Alex itu hanya khayalan yang ia
ciptakan semata dan bahwa Alex itu tidak ada. Yang ada hanya sesosok perempuan
yang ingin mendapatkan perhatian.
Saya menceritakan
kejadian tersebut pada salah satu teman saya. Teman saya pun sependapat bahwa
Alex ini memang terlihat mencurigakan. Dan itu semakin membuat saya yakin bahwa dia
memang membohongi saya. Setelah saya mendapatkan
kebenarannya, saya merasa dibohongi. Saya kecewa. Selama ini saya
mempercayainya, saya curhat dengannya. Ternyata di balik itu semua dia
berbohong pada semua orang yang mengenalnya.
Akibat kejadian tersebut
saya lebih berhati-hati dan kritis dalam berteman di dunia virtual. Selama saya
berteman dengan orang-orang yang di dunia virtual, saya tidak pernah dibohongi
seperti ini, saya pun memang memiliki beberapa sahabat yang saya temui di dunia
virtual dan sampai saat ini saya masih berhubungan baik dengan mereka.
Dari isu yang saya
kemukakan di atas, saya menyimpulkan bahwa di dunia virtual semua orang bisa
menjadi siapa saja dan apa saja. Siapapun bisa memalsukan identitas sesuka
hati. Maka dari itu kita harus berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media
sosial. Karena kita tidak tahu akibat apa yang kita peroleh dari menggunakan
media sosial tersebut.
Pesan saya, jangan mudah
percaya terhadap orang yang belum anda kenali sebelumnya, apalagi di dalam
dunia virtual. Kita harus waspada dan berhati-hati menggunakan dunia maya
terutama dalam ranah virtual identity yang kedepannya dapat di
pertanggungjawabkan baik secara moral maupun normal yang ada.
Referensi Bacaan:
Ningsih, Widyana. 2015. Self
Disclosure Pada Media Sosial. Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Humas Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu
Politik Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa Banten.
Steueur. 1992. “Defining Virtual
Reality: Dimensions Determining Telepresence” Department of Computer Science
University College London.



Komentar
Posting Komentar